Audio

Suka sekali lagu ini. Hujan memang selalu menyimpan kenangan tersendiri :)

Text

Baru ditinggal suami beberapa hari sudah mampu membuat saya kehilangan gairah.

Saya merindukannya. Sangat

Saya rindu ketika kami mengobrol hal-hal lucu di malam ketika kami akan beranjak tidur

Saya rindu kebiasaannya mencium kening saya di pagi hari

Saya rindu suaranya membangunkan saya untuk sholat shubuh berjamaah

Saya rindu tangan besarnya yang selalu membuat saya hangat

Saya rindu dengan kebiasaannya menonton bola pada dini hari. Ketika saya menemukannya di ruang keluarga, beberapa menit kemudian dia kembali ke kamar untuk tidur. Katanya : ” Lebih enak tidur sama anak istri dibanding nonton bola “

Saya rindu omelan dan nasehatnya disaat saya sudah mengulur-ngulur waktu untuk makan

Dan sekarang. Saya merasa hampa. Walau dengan alasan untuk mencari nafkah tetap saja, saya merasa hampa.

Rindu. Benar-benar rindu :(

Text

Long Goodbye

2 minggu tidak terasa sudah saya resmi meninggalkan rumah orang tua untuk pindah sepenuhnya ke kota Surabaya. Memang masih banyak yang perlu dilengkapi antara lain surat pindah dari RT RW setempat, surat berkelakuan baik, dsb. Persoalan yang menanti saya di Surabaya pun tidak kalah banyaknya. Pipa air bocor, pompa mati, mesin cuci macet, AC rusak membuat saya harus bolak balik memanggil tukang. Saya yang sebelumnya (ketika masih berada di rumah orang tua) hanya tinggal terima bersih dan marah jika apa yang saya butuhkan tidak tersedia merasa agak sedikit depresi mengalami itu semua sampai menyebabkan ketegangan pada perut saya.

Sedikit demi sedikit permasalahan itu mulai teratasi. Air sudah mengalir deras, AC sudah diperbaiki. Bukan hanya itu dengan kehadiran pembantu rumah tangga sangat membantu saya dalam mengerjakan berbagai pekerjaan rumah. Rumah bersih, nyaman, makanan tersedia (walaupun masih seadanya). Saya tidak perlu susah payah bolak balik ke pasar untuk belanja. Hanya tinggal memberikan instruksi, lalu sisanya saya yang mengolah.

Namun seperti halnya rumah baru yang sarat akan pengalaman baru. Ada beberapa hal yang mungkin baru pertama kali saya alami pada masa ini.

1. Menikmati Kesendirian. Saya ingin merasakan tertidur di sofa saat menunggu suami pulang, melamun di siang hari, duduk di balkon sembari melihat taman di rumah. Ada saatnya saya suka sendiri dan saya butuh sendiri. Tentunya tanpa kehadiran siapapun. Termasuk orang tua. Saya ingin merasakan sunyinya rumah tanpa suara televisi maupun dering telepon. Walaupun saya tahu cepat atau lambat saya akan merasa kesepian.

2. Tidak Suka Diatur. Saya akan makan ketika saya lapar, tidur ketika saya mengantuk atau bosan. Saya tidak ingin sedikitpun diatur. Mungkin maksud mereka mengkhawatirkan saya karena saya sedang mengandung. Tapi saya tahu apa yang saya lakukan dan saya yakin saya sudah bisa bertanggung jawab akan itu. Baik maupun buruk.

3. Slek Dengan Orang Tua. Untuk mengurus rumah baru, saya memiliki berbagai macam aturan yang saya buat sendiri dimana orang tua atau siapapun yang menginap belom mengetahui semua itu. Seperti saya tidak suka ada tissue bekas diatas meja, minyak yang menempel, atau kamar mandi yang basah dimana-mana. Hal tersebut terkadang membuat saya kesal. Namun saya sadar saya harus berhati-hati dalam mengingatkan karena perasaan orang tua yang cukup sensitif.

4. Saya Pembuat Keputusan. Apapun yang terjadi dalam rumah tangga saya, hal itu merupakan keputusan saya bersama suami. Tidak ada pihak lainpun yang mempengaruhi ataupun ikut campur dalam membuat keputusan. Segala masukkan yang ada tentunya akan kami pertimbangkan namun sekali lagi, hal itu hanya berupa masukkan. Yang paling memahami dan mengerti persoalan dalam rumah tangga kami tentunya hanya kami sendiri. Dan dengan usia sekarang, kami rasa kami cukup bijak akan hal itu.

Secara keseluruhan mungkin ini adalah puncak dimana saya meninggalkan ‘dunia lama’ saya yang penuh dengan masa muda, ketergantungan terhadap orang tua menuju dunia baru yang penuh dengan kemandirian (walaupun pasti saya akan masih membutuhkan saran dan nasehat keluarga). Intinya saya sedang menikmati apa yang saat ini saya jalani (menjadi ibu rumah tangga sekaligus pengangguran). Saya berharap karier saya menjadi seorang arsitek sepenuhnya dimulai dari sekarang. Yes, ‘Architect’ for my OWN family :)

Text

ambisi dan realita

Realita yang sekarang saya hadapi adalah, saya berada disini. Bekerja. Menunggu saat-saat dimana saya diperbolehkan untuk RESIGN dan tidak lagi mengerjakan hal-hal yang menjemukan seperti ini setiap harinya.

Realita yang sekarang saya hadapi adalah kehamilan saya yang memasuki trisemester kedua. Semakin besar keinginan saya untuk terus berada dirumah (apalagi disaat suami sedang off :x), memasak berbagai macam makanan (saya bercita-cita membuat soes isi cream keju dan eclairs setelah saya memiliki oven sendiri dirumah), bersantai, mendengarkan musik klasik, dan menghabiskan sore dengan menonton dvd favorit saya, The Monk.

Dan ternyata realitanya adalah Grand Opening Proyek yang saya kerjakan harus mundur seminggu lagi dari waktu awal yang telah ditentukan. What the??

Hey! Saya sendiri sama sekali bukan orang yang ambisius mengejar karier. Tidak sama sekali. Jika boleh dibilang, mungkin menjadi pegawai kantoran adalah pekerjaan yang sangat tidak saya senangi. Ada beberapa alasan yang melatarinya seperti :

1. Saya paling tidak suka jika diburu-buru oleh waktu. Menjadi pegawai kantoran sama halnya saya harus mematuhi jam aturan masuk dan pulang kerja. Jam 7 sampai jam 17.00. Terkadang saya ingin merasakan bisa bangun pukul 9 dan tidur setelah jam makan siang.

2. Bekerja dengan kondisi dan situasi yang formal. Mengingat keadaan saya pada jaman tugas akhir, saya adalah orang yang paling jarang untuk mengerjakan tugas akhir dikampus. Alasannya adalah saya harus mengenakan baju rapi, duduk manis di kapling hingga sore hari. Kenyataannya, saya senang mengerjakan CAD sembari tiduran atau meletakkan kaki diatas meja. Tentunya dengan kaos oblong dan celana tidur.

3. Tidak ada kata “hari kejepit” atau “cuti bersama”. Selain pegawai negeri, yang saya tahu tidak ada kata libur. Bahkan kalau perlu, sabtu-minggu mereka datang ke kantor untuk mengerjakan beberapa pekerjaan yang belum usai. Hey, saya juga punya keluarga yang merindukan kehadiran saya full-time bersama mereka. Jika sabtu-minggu saya terpakai untuk kegiatan kantor, kapan lagi saya bisa menikmati berolahraga atau sembari menonton bioskop bersama suami dan anak-anak?

4. Lembur adalah kegiatan yang diijinkan. Siapa bilang? tidak ada tambahan jam kerja dalam kamus saya. Jika sudah jam pulang ya pulang. Untuk apa masih bekerja. Apalagi nongkrong-nongkrong dikantor sambil merokok? Saya akan lanjutkan besok. Jika tidak sempat ya lihat kembali jobdesk saya. Perlukah hal itu saya kerjakan? Atau ternyata perusahaan ini kekurangan personil?

Jika boleh dikatakan, saya masih berambisi untuk menjadi orang sukses. Sukses dalam definisi saya adalah, saya dapat mengembangkan ilmu, skill, dan passion yang saya miliki agar dapat menciptakan sesuatu yang berguna bagi saya maupun orang lain. Tentunya sukses dalam artian sama sekali tidak melupakan kodrat saya sebagai seorang wanita dan ibu. Karena apa yang patut dibanggakan jika ada seorang wanita dengan karier cemerlang disamping kehidupan keluarganyan yang berantakan. Saya lebih memilih ‘biasa-biasa’ saja.

Bagaimanapun kebahagiaan wanita seutuhnya berada pada keluarganya bukan? Itulah yang sebenarnya ingin saya katakan pada bos saya. “Hey boss! I have my own life! Biarkan saya resign laaaaaah”

——_________——

Video

One of my favourite. Mengenang Robin Gibb :(

Text

hidup sehat

Hidup sehat menurut saya adalah :

1. Makan dengan teratur. Tiga kali sehari. Dengan porsi lauk pauk dan sayur mayur serta susu (sebagai tambahan) sesuai dengan kebutuhan tubuh

2. Melakukan aktivitas tubuh secara rutin

3. Tidur dan beristirahat dengan cukup

4. Menjauhi apa yang dinamakan stress dengan berpikiran positif serta rekreasi secara rutin

5. Tinggal dalam lingkungan yang baik

Poin 5 saya bold. mengapa? Kemarin dokter menyatakan bahwa saya menderita penyakit bronkitis. Pada awalnya memiliki gejala seringnya saya terkena influenza. Dan berpuncak pada kemarin malam dimana saya tidak dapat tidur semalam suntuk akibat dari sesak nafas. Oke, saya akui memang saya memiliki alergi terhadap udara dan beberapa makanan (seperti es krim dan minuman dingin lainnya). Seolah-olah hidung dan tenggorokan saya tidak dapat menolerir itu semua. Dan sungguh, saya sangat mengerem keinginan saya untuk makan dan minum dingin. Pola makan tiga kali sehari secara teratur pastinya mengonsumsi masakan rumah yang saya yakini terjaga kebersihannya juga sudah saya lakukan. Lantas kenapa flu yang berujung pada peradangan cabang tenggorok menyerang saya?

Bronkitis infeksiosa disebabkan oleh virus, bakteri dan organisme yang menyerupai bakteri (Mycoplasma pneumoniae dan Chlamydia)

Serangan bronkitis berulang bisa terjadi pada perokok dan penderita penyakit paru-paru dan saluran pernapasan menahun.

Okey. Saya resmi bukan perokok, penderita penyakit paru-paru atau saluran pernapasan menahun.

Infeksi berulang bisa merupakan akibat dari:

  • Sinusitis kronis
  • Bronkiektasis
  • Alergi
  • Pembesaran amandel dan adenoid pada anak-anak.

Jika Sinusitis dan Alergi dapat menyebabkan infeksi berulang, mungkin hal ini yang menjadi pemicu atas penyakit saya.

Bronkitis iritatif bisa disebabkan oleh:

  • Berbagai jenis debu
  • Asap dari asam kuat, amonia, beberapa pelarut organik, klorin, hidrogen sulfida, sulfur dioksida dan bromin
  • Polusi udara yang menyebabkan iritasi ozon dan nitrogen dioksida
  • Tembakau dan rokok lainnya.

(sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Bronkitis)

Okay saya rasa dua poin yang saya bold adalah tersangka utama dari penyebab bronkitis yang menyerang saya. Berbagai jenis debu? jelas. Dengan kondisi tempat pekerjaan saya (baca:proyek) yang berada ditengah kota dan merupakan pusat perbelanjaan tradisional. Dapat dibayangkan ‘bersihnya’ udara daerah tersebut dengan asap knalpot kendaraan bermotor dicampur dengan pembakaran sate dan pedagang kaki lima lainnya yang ikut andil dalam pengotoran udara. Dan yang terakhir adalah sampah yang dibiarkan menumpuk persis di depan lokasi direksi keet yang saya tempati.

Mungkin ini adalah resiko dari ‘pilihan’ saya untuk tinggal dan mencari pekerjaan sementara. Dan beberapa hal yang bisa saya lakukan untuk mengurangi dan mencegah datang kembali adalah

1. Menjauhi makanan berlemak

2. Menghindari udara yang berdebu (mungkin dengan penggunaan masker, dsb)

3. Berkonsultasi dengan dokter dan melakukan inhalasi (penguapan)

4. Mencari lingkungan dengan kondisi udara yang baik

Semoga kota Surabaya merupakan pilihan tepat untuk hidup saya nantinya. Aamiin. Jika di masa depan kota Surabaya makin berkembang dan kondisi sudah tidak memungkinkan lagi, mungkin kota Madiun atau Solo yang akan saya pikirkan untuk tempat hidup di hari tua. Who knows?

Agak menyimpang dari topik diatas. Disaat usia kandungan saya sudah memasuki awal trisemester kedua, saya masih diberikan antibiotik dan beberapa obat (yang menurut saya) keras. Sehingga mengurungkan niat saya untuk meminumnya. Kalaupun harus diminum setidaknya saya konsultasikan dengan dokter kandungan atau saya kurangi dosis pemakaiannya.

Hhhhhhh….Ada benarnya juga mengapa masyarakat perkotaan (terutama di negara berkembang) lebih rawan terkena kerusakan hati. Selain karena pola hidup yang tidak sehat juga pemberian obat keras seolah menjadi sebuah kebiasaan dalam dunia kedokteran. Walaupun saya yakin tidak semua dokter melakukan hal tersebut.

Memang hidup sehat tidak hanya dari diri kita. Lingkungan memiliki andil yang cukup besar. Segera kita selamatkan diri dan keluarga dengan meninggalkan kota Jakarta yang sudah semakin menggila ini.

Text

tanggung jawab

Di suatu siang ada seorang teman yang mengirim message terhadap saya menanyakan mengenai hal-hal yang dipersiapkan untuk menuju pernikahan. Saya agak tertegun sekaligus amaze. Jika mau dilihat-lihat seorang teman ini memang tidak terlalu dekat dengan saya padahal kami berada dalam satu jurusan. Alasannya? Karena dia tipe anak gaul. Aktif dalam kegiatan kemahasiswaan, memiliki teman segudang dalam kampus dan luar kampus, serta (ehm) lumayan sering gonta ganti pacar. Biar saya cerita sedikit mengenai teman saya ini. Seorang perempuan cantik, pintar, gaul (okay. siapa yang nggak tertarik?). Pintar, pekerja keras, punya karakter seradak seruduk. Dan pada saat tingkat tiga dia memutuskan untuk menggenakan jilbab (amaze nomor 1). Tapi tetap saja, gaya ceplas ceplos, seradak seruduknya masih tetap kental.

Okay next, setelah gonta ganti pacar sana sini nampaknya memang si pacar inilah pacar terawetnya. Dan mmm…waw. Sudah memikirkan untuk hubungan yang serius (baca: pernikahan)? Dengan umur semuda dia? Dan dengan pergaulan seperti dia? Luar biasa. Disaat banyak orang lain yang masih ‘haus’ dengan masa mudanya, disaat mereka (bahkan) sudah memiliki pasangan tetap, dan dengan umur yang masih ‘muda’ masih ingin merasakan jadian (oh..God..:))). Dia sudah ‘siap’ untuk membina seuatu hal yang mengerikan bernama tanggung jawab. Self Development yang cukup baik pikir saya.

Text

The Raid

Pada libur kemarin, saya melihat disebuah stasiun televisi swasta mengulas tentang film The Raid. Seperti yang kita ketahui bahwa film ini sedang hangat-hangatnya dibicarakan oleh publik. Tidak hanya cerita dan pembuatannya namun juga aksi karate dari bintang-bintangnya yang tidak hanya menyita perhatian masyarakat dalam negeri saja tetapi sampai luar negeri. Tanpa ba bi bu saya langsung mengajak suami untuk menontonnya. Akhir-akhir ini saya memang gemar sekali menonton film yang dapat menaikkan adrenalin. Oke. Blitz Megaplex, Pasific Place, jam 14:45. Checked!

Menit pertama disajikan dengan pasukan polisi dengan perlengkapan senjata bersiap untuk menggerebek sebuah bandar/mafia/penjahat kelas kakap dalam sebuah apartemen kumuh. Apartemen kumuh terdiri dari 30 lantai yang berisi buronan-buronan publik. Mereka diberi kebebasan untuk menghabisi pasukan polisi tersebut. Hampir 3/4 dari adegan film ini berupa aksi perkelahian antar yang ‘baik’ dan yang ‘jahat’. Memasuki bagian akhir film dimana sang jagoan utama mulai terlihat kemenangannya, saya masih bertanya-tanya sebenarnya masalah apa sih yang melatari semua ini? Perjalanan cerita yang kurang runut membuat saya kehilangan esensi. Perkelahian tokoh utama seharusnya bisa disusun sedemikian rupa dari yang ‘biasa aja’ sampai the godfather muncul. Cukup mengecewakan ketika akhirnya godfather mati begitu saja tanpa perlawanan sedikitpun. Antiklimaks.

Namun overall saya cukup mengagumi film buatan dalam negeri ini. Tidak murahan. Tokoh jahat Maddok dapat diacungi jempol aktingnya. Dia berkelahi murni menggunakan otot bahkan sampai harus mati karena tusukkan benda tajam. Bintang favorit saya Donni Alamsyah juga tampak memukau walaupun tidak menjadi tokoh jagoan utama.

Text

Ternyata

Ternyata..

Saya adalah seorang bergolongan darah O yang pesimis, jauh dari kata periang, semangat mudah meredup, moody, lemah dan loyo kalau kata orang.

Ternyata..

Saya lebih diam jika bertemu dengan orang baru. Mendengarkan dengan baik apa yang dia bicarakan atau larut dalam pikiran saya sendiri.

Ternyata..

Saya suka pergi dengan kendaraan umum jalur darat sendirian (dari angkutan umum, bis antar kota, sampai kereta api). Nongkrong dan mengopi di cafe nyaman sendirian. Sensasi berada seorang diri dengan sekumpulan orang asing, momen yang sangat saya sukai.

Ternyata..

Ingatan saya tentang hal-hal yang tidak penting justru sangat kuat. Terbukti dengan pembicaraan bodoh dengan teman-teman seperti :” Siapa nama putri yang diperebutkan dalam film Time Quest?” “Putri Syalalala” atau ” Siapa nama si kembar dalam film Miracle Girls?” “Tomomi dan Mikage”. Tapi sepertinya ingatan saya yang kuat ini tidak berlaku saat ujian Konstruksi Bangunan, Arsitektur Modern, dll.

Ternyata..

Hal yang sangat mempengaruhi mood saya seharian adalah ‘rasa lapar’. Saya bisa uring-uringan dan sangat cerewet ketika saya lapar. Dan kembali diam ketika saya sudah kenyang.

Ternyata..

Saya tidak suka binatang. Saya tidak akan memperlakukan binatang dengan baik (memberi makan, memberikan tempat tinggal). Sama halnya saya juga tidak akan menyakiti binatang. Mereka punya kehidupan sendiri. Yang pasti juga dengan sesamanya.

Ternyata..

Saya bukan pembaca yang baik. Tetapi saya suka membaca. Sama halnya seperti saya bukan penulis yang baik namun saya suka menulis. Saya hanya menikmati momen-momen melakukan kegiatan itu. Walaupun pada akhirnya saya akan cepat bosan.

Ternyata..

Hal yang bisa membuat saya tertarik adalah sesuatu yang berbau misteri dan sejarah. Saya suka film dengan tagline ‘Based On True Story’. Terlebih lagi yang bisa membangkitkan adrenalin saya. Karena itu saya suka film horror Thailand. Karena mereka pintar memainkan pikiran dan adrenalin penonton. Saya tidak suka film yang menyajikan pembunuhan sadis dan darah berceceran. Menjijikkan.

Ternyata..

Saya menyukai musik yang dapat menciptakan suasana sentimentil. Sentimentil seperti apa mungkin hanya saya yang dapat mendeskripsikannya.

Dan Ternyata..

Saya adalah seorang dengan keinginan yang besar namun daya juang yang kecil. Seorang pemalas dan deadliners sejati. Ya, saya selalu berusaha untuk mengubah kebiasaan yang saya anggap buruk. Dan mengembangkan setiap potensi yang saya miliki. Everybody’s changing, rite?

Text

mother

Wow. Saya menghabiskan kurang lebih Rp 100.000,- perhari untuk makan siang. Catat. Untuk makan siang.

Kata dokter, pembentukkan hormon yang saya alami dalam minggu-minggu ini akan mencapai tahap maksimum. Akibatnya? Saya tidak pernah merasakan jijik yang luar biasa terhadap makanan sebelumnya. Tidak hanya makanan. Asap kendaraan, sabun mandi, pewangi pakaian, parfum? Big no no!

Disamping itu, selain sensitif berlebihan terhadap macam-macam bau, saya juga tidak kuasa dalam menahan apa yang dinamakan emosi. Emosi naik turun. Mudah tersinggung. Dan jika sampai pada tahap marah, maka saya bisa mengamuk seperti orang kesetanan. True story.

Salut dengan ibu hamil yang masih bisa memasak, bekerja, atau sekolah. Karena itu berat. Saya akui, berat. Kenyataannya adalah saya absen memasakkan makanan untuk suami. Jangankan memasakkan makanan, menemani ia makan di meja makan pun saya tidak mau. Karena ya itu, saya menghindari bau uap nasi, piring yang telah dicuci dengan sabun, suasana di meja makan. Seolah membuat kepala saya berputar.

Dikantor juga serupa. Saya pensiun sebagai peninjau lapangan (sekarang dialih tugaskan kepada supervisor). Datang sekitar jam 10.00 karena morning sickness yang benar-benar mematikan gairah pagi. Siang hari atasan saya sudah mengerti kalau-kalau saya tergeletak tak berdaya di meja kantor karena sudah pasti saya akan merasa cepat lelah dan mengantuk.

Jika ada kata-kata ‘Surga ada di telapak kaki ibu’, memang seperti itulah adanya. Dengan pertumbuhan janin yang masih hitungan mili, sudah mampu membuat ibu merasa tidak nyaman. Kelak kita akan lebih respek terhadap ibu ketika kita merasakan bagaimana sulitnya menjadi seorang ‘calon’ ibu.